Masuk

Ingat Saya

Menjaga Kebersamaan di Tengah Keberagaman

Menjaga Kebersamaan di Tengah Keberagaman

Sebagai bangsa dengan beragam etnis dan budaya serta diberkahi sumber daya alam yang kaya raya, kita patut mensyukurinya. Namun apa jadinya bila bangsa yang besar itu tanpa kebersamaan warganya?

Apa jadinya, bila sebagai bangsa setiap saat warganya gontok-gontokan dan tidak pernah memiliki sifat toleran pada sesamanya? Apa jadinya?

Bila seperti itu kondisinya, sebuah negeri pasti tidak nyaman didiami karena setiap saat menebar keresahan. Pasti tidak nyaman, karena warganya acuh, tidak ramah, individualistis dan tidak peduli sesama. Untungnya kita—bangsa Indonesia—bukanlah bangsa yang berdiam di sebuah negeri dengan karakter masyarakat yang a-sosial seperti itu.

Kita adalah bangsa yang toleran, ramah, peduli dan menjunjung tinggi kesetiakawanan, persatuan dan kesatuan. Banyak warisan budaya dalam tatanan kehidupan masyarakat yang menjelaskan, kita adalah bangsa besar dengan kepribadian yang menjunjung nilai-nilai luhur warisan nenek moyang itu. Simaklah berbagai acara tradisi yang masih berlaku dalam masyarakat kita. Sebagai bangsa multi etnik, kita memiliki banyak upacara adat dan tradisi masyarakat dalam banyak hal, mulai adat perkawinan, tradisi ungkapan rasa syukur, tradisi menghadapi kemalangan dan tradisi menghadapi masalah dalam kehidupan masyarakat.

Meski tradisi budaya leluhur itu beragam—sesuai ragam etnis—namun memiliki filosofi dan kearifan tradisi yang sama: menjunjung nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial. Setiap ada yang menghadapi kesusahan—kemalangan atau penderitaan—masyarakat kita terpanggil untuk bergegas memberi bantuan dengan kesadaran hati yang penuh ikhlas. Itulah yang terjadi saat ada yang mengalami musibah kematian atau bencana alam.

Tidak hanya dalam keadaan susah, dalam keadaan senang—seperti hajatan pesta keluarga—pun, semangat kegotongroyongan sesama warga terlihat. Apalagi dalam rangka menghadapi masalah bersama, misalnya menghadapi masalah lingkungan, kelompok masyarakat kita mengedepankan gotong-royong ketimbang mengeluhkan kepada pejabat berwenang.

Semangat kesetiakawanan sosial yang mewujud ke dalam beragam tradisi pada kehidupan sehari-hari, merupakan modal membangun bangsa. Kesetiakawanan sosial dengan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat merupakan modal spiritual yang kuat menghadapi tantangan bangsa.

Berbagai cobaan dan tantangan pernah kita hadapi. Cobaan yang paling sering kita alami adalah bencana alam. Bencana dahsyat hingga menyentak perhatian dunia pun berkali-kali kita hadapi. Sebutlah bencana gempa bumi dan tsunami, gunung meletus, hingga banjir bandang. Semuanya berhasil kita lalui. Setiap kali ada bencana, solidaritas bangsa terkonsentrasi di lokasi bencana. Emosi kita larut dalam kebersamaan, ikut merasakan penderitaan dan berbagi kemampuan meringankan beban sesama dengan menggelar berbagai aksi kepedulian sosial.

Semangat kesetiakawanan sosial yang menjadi karakter bangsa kita merupakan modal yang tidak bisa dinilai dengan uang dalam rangka mengatasi berbagai kesulitan bangsa. Semua fakta sosial itu membuktikan, pada dasarnya kita sebuah bangsa yang bersatu dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan di tengah kekayaan berbedaan budaya. (suharto)

Dengan